KETIKA RUH BERPISAH DENGAN JASADNYA (Copas dari blog tetangga)

Suatu ketika Nabi SAW mendatangi rumah istri kesayangan beliau, al Khumaira, Aisyah RA. Melihat kedatangan beliau, Aisyah yang sedang duduk bersila ingin bangkit menyambut, tetapi Rasulullah SAW bersabda, “Duduklah saja pada tempatmu, wahai Ummul Mukminin, tidak perlu engkau berdiri!!”

Nabi SAW menghampiri Aisyah dan kemudian berbaring terlentang dengan berbantalkan pangkuannya, tampak sekali kemanjaan dan kasih sayang beliau kepadanya.

Sepertinya pada hari itu Rasulullah SAW sangat lelah sehingga tidak lama berselang beliau telah tertidur. Aisyah memandangi wajah beliau dengan kasih sayang dan kekaguman. Tanpa disadari jari jemarinya mengurai jenggot Rasulullah SAW, dan Aisyah menemukan sembilanbelas rambut jenggot yang telah memutih (beruban). Tiba-tiba saja tersirat dalam hatinya, “Sesungguhnya beliau akan keluat dari dunia (meninggal) sebelum aku, dan tinggallah umat Islam dalam keadaan tanpa nabi!!”

Merasakan kenyataan seperti itu, Aisyah jadi bersedih dan menangis, air matanya mengalir ke pipi dan menetes jatuh mengenai wajah Rasulullah SAW sehingga beliau terbangun.

Dengan heran beliau bersabda, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Ummul Mukminin!!”

Aisyah menceritakan perasaan sedih yang menghantui dirinya, dan Nabi SAW hanya tersenyum mendengarnya. Beliau bersabda, “Wahai Aisyah, keadaan apakah yang sangat menyusahkan bagi seseorang (yakni bagi ruhnya) ketika ia menjadi mayat?”
Aisyah berkata, “Katakanlah padaku, ya Rasulullah!!”
Beliau berkata, “Engkau saja yang mengatakannya dahulu!!”
Aisyah sejenak berfikir, kemudian ia berkata, “Tidak ada yang menyusahkan atas diri mayit kecuali ketika ia diusung ke luar rumah menuju kuburnya, anak-anak yang ditinggalkannya akan berduka dan berkata : Wahai ayah, wahai ibu!! Begitu juga orang tuanya akan berkata : Wahai anakku, wahai anakku!!”

Nabi SAW bersabda, “Hal itu memang terasa akan pedih, tetapi ada yang lebih pedih daripada itu!!”

Aisyah berkata lagi, “Tidak ada yang lebih berat bagi mayit kecuali ketika ia dimasukkan ke dalam liang lahad dan ia diurug di bawah tanah, anak dan orang tuanya, kerabat dan kekasihnya akan meninggalkannya pulang.
Mereka membiarkannya sendirian beserta amal perbuatannya, menyerahkan urusannya kepada Allah. Kemudian setelah itu datanglah malaikat Munkar dan Nakir ke dalam kuburnya!!”

Beliau bersabda lagi, “Apa lagi yang lebih berat dari apa yang engkau katakan itu?”

Akhirnya Aisyah menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui!!”
Maka Nabi SAW bersabda, “Hai Aisyah, sesungguhnya saat yang paling berat (paling menyedihkan) bagi mayat adalah ketika tukang memandikan masuk ke dalam rumahnya untuk memandikan mayatnya….”

Kemudian beliau menjelaskan lebih lanjut, bahwa ketika tukang memandikan itu melepas cincin (atau perhiasan lainnya) dari tubuhnya, melepas pakaian pengantin (atau pakaian lainnya) dari badannya, melepaskan sorban para syaikh dan fuqoha dari kepalanya, ketika itulah sang ruh berseru saat melihat tubuhnya yang telanjang, seruan yang bisa didengarkan oleh seluruh mahluk kecuali jin dan manusia, “Wahai tukang memandikan, demi Allah aku memohon kepadamu, agar engkau melepaskan pakaianku (dan lain-lainnya) dengan pelan-pelan, karena sesungguhnya saat ini aku tengah beristirahat dari sakitnya dikeluarkannya nyawaku oleh malaikat maut!!”

Ketika tukang memandikan menuangkan air ke mayatnya, sang ruh berteriak keras dengan teriakan yang didengar oleh semua mahluk, kecuali jin dan manusia, “Hai tukang memandikan, demi Allah, janganlah engkau menuangkan air yang panas, jangan pula engkau tuangkan air yang terlalu dingin, sesungguhnya jasadku telah terbakar saat dicabutnya nyawaku!!”
Ketika tukang memandikan mulai menggosok tubuhnya, lagi-lagi sang ruh berteriak, “Wahai tukang memandikan, demi Allah, janganlah memegang tubuhku terlalu keras, sungguh jasadku telah terluka sebab keluarnya nyawaku!!”

Ketika selesai memandikan dan jasadnya diletakkan pada kain kafan, dan mulai diikat di bawah kakinya, sang ruh berseru lagi, “Demi Allah wahai tukang memandikan, janganlah engkau ikat terlalu erat pada kepalaku, agar masih terlihat wajah-wajah keluargaku, anak-anakku, dan kerabat-kerabatku lainnya. Karena saat ini terakhir kali aku bisa melihat mereka, aku tidak akan melihatnya lagi hingga hari kiamat tiba!!”

Ketika dikeluarkan dari rumahnya dan diletakkan di dalam keranda, sang ruh berseru lagi, “Demi Allah, wahai para pengantarku, janganlah tergesa-gesa membawaku pergi sehingga aku berpamitan kepada rumahku, keluargaku, kerabatku, dan harta-hartaku.

Aku tinggalkan istriku menjadi janda, anak-anakku menjadi yatim, karena itu janganlah kalian menyakiti mereka. Biarkanlah aku sesaat untuk mendengarkan suara keluargaku, anak-anakku, dan kerabat-kerabatku, karena aku akan berpisah hingga saat kiamat tiba….!”

Ketika kerandanya dipikul dan keluar tiga langkah dari rumahnya, lagi-lagi sang ruh berseru, “Hai para kekasihku, saudara-saudaraku dan anak-anakku, janganlah kalian terbujuk oleh dunia sebagaimana dunia telah memperdaya aku!! Janganlah kalian dipermainkan oleh jaman sebagaimana ia telah mempermainkan aku!! Ambillah ibarat (hikmah) dariku!! Sesungguhnya aku meninggalkan untuk ahli warisku apa yang aku kumpulkan, dan aku tidak membawa (manfaat) apapun dari dunia (harta) yang kutinggalkan, bahkan Allah akan menghisabku. Engkau bersenang-senang dengannya (harta peninggalanku itu) dan kalian tidak mendoakan aku!!”

Sungguh nasehat yang sangat berharga. Sayangnya, semua seruan dan teriakan ruh tersebut yang bisa didengar oleh seluruh mahluk, ternyata jin dan manusia tidak bisa mendengarnya. Padahal justru dua jenis mahluk itu yang sebenarnya bisa memperoleh banyak manfaat dan pengajaran jika saja bisa mendengar dan memahami seruan sang ruh.

Ketika jenazahnya dishalatkan dan sebagian orang lainnya meninggalkan masjid atau musholla, sang ruh berseru lagi, “Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, aku tahu bahwa orang mati akan dilupakan oleh orang-orang yang masih hidup, akan tetapi janganlah kalian cepat-cepat pulang sebelum kalian melihat tempat tinggalku.

Sesungguhnya aku tahu bahwa wajah mayat itu lebih dingin daripada air yang sangat dingin bagi orang-orang yang masih hidup, tetapi janganlah kalian terlalu cepat pulang meninggalkan aku sendirian!!”

Ketika jenazahnya diletakkan di sisi kuburnya, dan kemudian diturunkan ke liang lahad, sang ruh berseru untuk terakhir kalinya, “Demi Allah, wahai saudara-saudaraku dan para pengantarku, sesungguhnya aku mendoakan kalian semua tetapi mengapa kalian tidak mau mendoakan aku? Wahai ahli warisku, tidaklah aku kumpulkan harta dunia kecuali aku tinggalkan untuk kalian, maka ingatlah kalian kepadaku dan berbuatlah kebaikan

Setelah aku mengajarkan kalian membaca al Qur’an dan tata krama (adab), hendaklah kalian jangan lupa mendoakan aku!!”

Subhanallah...
Alangkah baiknya kita senantiasa mengingat akan kebesaran ALLAH SWT, dan senantiasa memberi salam penghormatan kepada Baginda Rasulullah Saw dengan Shalawat yang mudah2n ALLAH memberikan kita kemuliaan dan kehormatan baik di dunia, maupun di akhirat. Aamiin
(Cantumkan jika ada doa khusus agar kami para jamaah bisa mengaminkannya)
Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.
Ya ALLAH...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pahala Ibadah VS Media Sosial (Belajar Bijak Memposting Status Media Sosial)

Masih asingkah dengan kata Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, Line, dan BBM ?? Saya rasa tidak. Jangankan kita yang sudah tergolong usia dewasa, anak kecil saja yang usianya masih belum mencukupi untuk bergabung ke jejaring sosial tersebut terkadang membuat akun dengan memalsukan tahun kelahiran, tidak percaya?? coba sesekali kita check apa yang sedang adik, keponakan, sepupu atau saudara-saudara kita yang usianya masih tergolong belia. Mereka rata-rata sudah memiliki salah satu akun yang saya sebutkan diatas entah apa tujuannya, mungkin agar bisa dibilang kekinian bisa jadi kan???

Oke, kita ke topik yang sebenarnya saya ingin jabarkan. Saya tergelitik untuk menulis artikel ini karena sudah terlalu banyak status-status media sosial yang bertentangan dengan apa yang saya pikirkan, bukan karena hanya bertentangan dengan hasil pemikiran saya saja tetapi dari sekelumit ilmu yang saya dapat ternyata memang hal tersebut seharusnya tidak dilakukan oleh para pengguna medsos tersebut.
Kita hidup di-era se-modern dan secanggih sekarang  ini, tentu tidak asing dengan beberapa postingan dimedia sosial seperti berikut :
"Yeee... puasa hari ini lancar, tar malem mau tahajud aahh biar sahurnya gak kesiangan" 
"Iiihh mamah kenapa ga bangunin buat sahur sih, aku kan puasanya jadi ga sahur.."
"Duuuhhh siang-siang gini jadi ngantuk gara-gara semalem tahajud sama dzikir 1000x"
"Semoga puasa hari ini lancar, duuuhhh udah ga tahan nunggu bedug maghrib pengen es campuurr..."
"Alhamdulillah ya udah nyampe juz 20, semangat ahhh biar cepet khatam"
"Alhamdulillah ... Masih dbangunkan pagi ini , bs mlaksanakan sholat tahajud , shubuh..!!!"
"Semoga puasa hari ini lancar, ya. Gak ada yang bikin emosi dan bikin bete banget. Semangat!
"Udah yasinan, udah tahlilan dan udah shalat Isya rasanya adeemm bener nih ati gue, sekarang bobo yuukk..."
"Duuhh... uangnya tinggal goceng tapi ada pengemis kasian, ya udah deh gpp aku kasih aja. semoga bisa membantu ya neekk..."
"Tahajud ahh... biar tambah ganteng.."
"Iihh tadi shalat jum'atnya bau kaki, sumpah mau muntah.."
"Jum'atan dulu ya beb, biar kamunya tambah sayang aku.."

Daannn masih banyak lagi kalimat-kalimat postingan yang mencirikan bahwa si empunya akun sedang beribadah "katanya". Tahukah teman sesungguhnya ketika kita memposting hal-hal yang berbau ibadah itu bertentangan dengan ajaran agama kita, seperti petuah para pendahulu kita dibawah ini yang saya kutip dari www.kisahislam.net :

Basyr bin Al Harits berkata "Janganlah engkau beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu"
 Abu Hazim Salama Bin Dinar berkata "Sembunyikanlah kebaikan -kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman no 6500).
Dari Yazid bin Abdullah bin asy-Syikhkhir, dia menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Tamim ad-Dari, "Bagaimana sholat malammu?". Maka beliaupun marah sekali, beliau berkata "Demi Allah sungguh satu raka'at yang aku kerjakan tengah malam dalam keadaan rahasia itu lebih aku sukai daripada aku sholat semalam untuk kemudian hal itu aku ceritakan kepada orangp-orang ." (Lihat Ta'thirul Anfas, hal. 234)

Media sosial menurut saya bukan jembatan antara amalan ibadah kita agar sampai ke Allah SWT. justru malah menjadikan amalan-amalan kita terbuang sia-sia, Lho kenapa?? karena dengan cara memposting ibadah-ibadah yang kita lakukan itu sama saja kita memamerkan ibadah kita, jatuhnya malah ke perbuatan ria, menyombongkan diri dan menganggap ibadahnya paling baik dari ibadah orang lain. "Itukan hak kita yang punya akun" bukan satu dua pengguna akun jejaring sosial yang jika diingatkan akan berbicara seperti ini, sayapun tidak melarang hanya mengingatkan akan mubadzirnya ibadah yang kita lakukan jika disertai dengan postingan-postingan yang sehari-hari kita lakukan, sayapun pengguna media sosial aktif saya memiliki akun facebook, BBM, Instagram, Whatsapp dan lainnya, dulu pun mungkin saya pernah memposting tentang ibadah yang saya lakukan, akan tetapi semakin kita berpikir, berwawasan, dan menerima saran orang lain disitulah kita mengerti bahwa memang media sosial bukan tempat kita untuk memposting hal-hal yang menyangkut ibadah, biarlah ibadah kita hanya kita, malaikat, dan Allah SWT saja yang tahu itu jauh lebih baik ketimbang kita pamerkan dimedia sosial. Masih ingat dulu sebelum adanya media sosial, kita bercerita banyak hal dengan buku, masih ingat dengan buku diarynya? bayangkan dulu bagaimana kita menyimpan ditempat yang paling aman agar tidak ada yang baca curhatan kita, bahkan sampai-sampai ada model buku diary yang menggunakan gembok, sekarang bagaimana?? berbanding 180 derajat postingan berceceran dimana-mana siapapun bisa membaca apa yang kita tulis, bahkan tidak jarang membuat tali pertemanan, persahabatan bahkan dengan sesama keluarga menjadi kurang harmonis gara-gara kicauan-kicauan kita dimedia sosial. Masih mau mengumbar ibadah di media sosial???

Ayoo kita hijrah, belajar perlahan tinggalkan yang tidak seharusnya kita lakukan, jadilah pengguna media sosial yang baik, yang mampu memilah-milah mana yang harus diposting dan mana yang tidak seharusnya diperlihatkan. INGAT tujuan kita ibadah adalah mengharap ridho Allah SWT. kita berharap ibadah kita diterima oleh-Nya dan mendapat pahala yang berlipat ganda, bukan malah ibadah kita cuma sampai di databasenya Mark Zuckerberg (FB), Jack Dorsey (Twitter), Ma Huateng (We Chat), Mike Lazaridis (BBM), Brian Acton (WA), Dave Morin (Path) dan Kevin Systrom (Ig).

Ayo... kita sama-sama belajar berHIJRAH menjadi pengguna dan penikmat media sosial yang cerdas dan bijak dalam memposting hal-hal yang kita bagikan keteman-teman dunia maya...


____reniaren___140915
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Copyright 2009 Dunia 3 x 2 . . . !!!
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates